Sabtu, 27 Oktober 2012

Pengertian Bina' | Pembahasan Bina' | Macam-macam Bina'

Bina'



A. Pembahasan Bina'

Segala sesuatu itu membutuhkan frame (kerangka), kerangka asal lafadz itu dalam shorof disebut bina’. Untuk dapat mengetahui kokoh tidaknya suatu konstruksi atau bangunan lafadz seharusnya memahami tentang bina’ dengan demikian asal usul lafadz dapat diketahui. Orang yang mengetahui asal usul lafadz akan mudah mencari makna dalam kamus-kamus Arab.

Bina' dalam ilmu shorof cukup sederhana yakni hanya dengan mengetahui lafadz فَعَلَ yaitu fa’ fi’il, ain fi’il, dan lam fi’il. Adapun yang terkait dengan bina' dalam shorof secara sederhana terbagi menjadi lima yaitu ;






Inti dari lima bina’ tersebut sebenarnya dapat disederhanakan menjadi dua, yaitu mu’tal dan shohih sedangkan  mu’tal masih terbagi lagi menjadi beberapa bagian, penulis akan mejelaskan secara detail terkiat dengan bina’-bina’ tersebut. Maka dari itu, kita sebaiknya mengetahui terlebih dahulu mengenai makna-makna dari bina' untuk memudahkan kita dalam memahami istilah-istilah bina’.





            berkumpul atau bercampur atau terhimpun.


          hamzah.

Hal di atas mengadung makna bahasa secara umum, meskipun begitu ketika makna-makna tersebut ditarik dalam istilah-istilah shorfiyah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan makna aslinya.



B. Macam-macam Bina' dalam Ilmu Shorof




Bina’ mahmuz  itu terbagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:











Bina' ajwaf ini juga terbagi dua; yaitu:











Dari keterangan di atas, apabila kita masih kesulitan mencari dan mengidentifikasi bina’ dari fi’il madli, maka kita bisa mengqiyaskan ke fi’il mudlori’, apabila qiyasan ke fi’il mudlori’ masih belum jelas, maka kita bisa mengqiyaskan ke masdar ghoiru mim, misalnya lafadz; خَافَ – يَخَافُ - خَوْفًا 

Karena di sinilah semua asli huruf fi’il dapat diketahui dengan jelas, terutama dalam mencari bina’ mu’tal atau fi’il yang di dalamnya terdapat huruf Illat. Inilah diantara alasan ulama kufah, kenapa asal lafadz itu dari masdar tidak dari fi’il madli? Tidak lain karena, kerangka lafadz itu dapat diketahui secara sempurna pada saat diketahui masdarnya.



NB : bahwa huruf tambahan dari fi’il tsulatsi mazid, baik tambahan satu, dua, atau tiga huruf tidak ada pengaruhnya di bina’. Begitu juga ruba’i mazid baik tambahan satu atau dua huruf. Contoh lafadz أَكْرَمَ tidak dapat dikatakan bina’ mahmuz fa’ walaupun diawali dengan huruf hamzah, sebab hamzah tersebut merupakan huruf tambahan dari wazan أَفْعَلَ yang aslinya dari lafadz كَرُمَ begitu juga tidak berlaku dalam huruf tambahan yang lain. Adapun huruf tambahan baik dari tsulatsi atau ruba’i akan dibahas dalam bab tersendiri.







1 komentar: